EDUKASI, kalimat ini mungkin sering terngiang di telinga kita, namun saya ingin sedikit mengingatkan kepada pembaca sekalian tentang makna sesungguhnya dari kalimat tersebut. Menurut bangsa Romawi, edukasi atau educare adalah mengeluarkan dan menuntun tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa sejak dilahirkan di dunia. Menurut sumber yang saya dapat, selain bangsa Romawi, yaitu bangsa Jerman dan juga ras Jawa kesemuanya mengatakan bahwa pendidikan memang merupakan hal yang disampaikan untuk anak – anak , hal ini dikarenakan karena anak – anak ibarat spons yang mampu meyerap banyak hal dan secara cepat belajar dari apa yang datang kepadanya (baik itu suara, tulisan, gerak dsb).
Namun ini bukan berarti bahwa pendidikan tidak dapat dinikmati oleh orang di usia remaja ataupun usia dewasa, hanya saja daya serap yang dapat dicapai orang usia remaja dan dewasa tidak sama jika dibandingkan dengan mereka yang masih anak – anak, dan tentunya proses belajar tidak akan pernah berhenti mulai dari kita dilahirkan sampai dengan kita tiada.
Proses edukasi juga dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain penyampaian satu arah yang biasanya dilakukan dengan cara verbal atau visual, penyampaian materi kolaboratif atau diskusi dan penyampaian materi verbal secara visual motorik, semuanya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing – masing.
Ditengah maraknya Industri pertelevisian Indonesia, semua stasiun pertelivisian saling berlomba – lomba untuk menyajikan konten acara yang dapat meraih rating tinggi. Konten acara yang disajikan televisi Indonesia merupakan salah satu sarana pembelajaran yang tergolong dalam pembelajaran satu arah dimana audiens tidak diberi kesempatan untuk memberikan feed back secara langsung. Namun “Apakah memang semua konten yang disajikan oleh televisi Indonesia merupakan wadah atau tempat yang tepat dalam proses belajar mengajar ?”, tulisan ini akan membawa kita untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Disamping acara – acara entertainment yang disajikan pertelevisian, seperti halnya acara musik, sinetron ataupun reality show, kini pertelevisian Indonesia sengaja mengusung konten yang mereka sajikan dengan konsep EDUTAINMENT dimana, isi dari siaran tersebut merupakan gabungan antara konten pendidikan dan pengemasan konten yang menarik serta komunikatif. Ini membuktikan bahwa sebenarnya televisi bukan hanya sebagai sarana hiburan semata, namun juga dapat dijadikan wadah dalam proses belajar dan mengajar.
Namun ini bukan berarti bahwa pendidikan tidak dapat dinikmati oleh orang di usia remaja ataupun usia dewasa, hanya saja daya serap yang dapat dicapai orang usia remaja dan dewasa tidak sama jika dibandingkan dengan mereka yang masih anak – anak, dan tentunya proses belajar tidak akan pernah berhenti mulai dari kita dilahirkan sampai dengan kita tiada.
Proses edukasi juga dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain penyampaian satu arah yang biasanya dilakukan dengan cara verbal atau visual, penyampaian materi kolaboratif atau diskusi dan penyampaian materi verbal secara visual motorik, semuanya memiliki keunggulan dan kelemahannya masing – masing.
Ditengah maraknya Industri pertelevisian Indonesia, semua stasiun pertelivisian saling berlomba – lomba untuk menyajikan konten acara yang dapat meraih rating tinggi. Konten acara yang disajikan televisi Indonesia merupakan salah satu sarana pembelajaran yang tergolong dalam pembelajaran satu arah dimana audiens tidak diberi kesempatan untuk memberikan feed back secara langsung. Namun “Apakah memang semua konten yang disajikan oleh televisi Indonesia merupakan wadah atau tempat yang tepat dalam proses belajar mengajar ?”, tulisan ini akan membawa kita untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Disamping acara – acara entertainment yang disajikan pertelevisian, seperti halnya acara musik, sinetron ataupun reality show, kini pertelevisian Indonesia sengaja mengusung konten yang mereka sajikan dengan konsep EDUTAINMENT dimana, isi dari siaran tersebut merupakan gabungan antara konten pendidikan dan pengemasan konten yang menarik serta komunikatif. Ini membuktikan bahwa sebenarnya televisi bukan hanya sebagai sarana hiburan semata, namun juga dapat dijadikan wadah dalam proses belajar dan mengajar.
Mengapa edutainment tersebut dapat dikategorikan sebagai wadah dalam proses pembelajaran?. Tentunya karena adanya pesan pendidikan yang disampaikan didalamnya sebab itulah sesungguhnya yang terpenting dalam proses belajar dimana ada materi pendidikan yang disampaikan untuk nantinya dapat diserap dan bermanfaat bagi penerimanya. Misalnya pada acara “Laptpo si Unyil” di Trans 7 yang mengusung bagaimana cara pembuatan sepeda. Acara ini dikemas sedemikian mungkin sehingga tidak membosankan dan disukai pemirsa, dari acara ini anak – anak dapat belajar bagaimana sepeda dapat dibuat dan memberikan pembelajaran baru bagi anak – anak bahwa membuat sepeda adalah hal yang tidak sulit jika mau dipelajari. Selain itu ada juga Trans TV yang pernah memiliki program “Surat Sahabat” yang mengemas perjalanan sahabat dan asyiknya bermain di kota lain yang jauh dari hiruk pikuk ke glamouran kota besar,hal ini dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi anak –anak atau pemirsa yang ada di kota Lainnya. TVRI dengan banyaknya siaran kuis yang dilakukan seperti cerdas cermat antar sekolah, dan siaran edukasi lainnya seperti pembelajaran bahasa Inggris bersama atau mata pelajaran lainnya di sekolah. Ada juga TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) yang meyiarkan sinetron yang sarat akan hikmah seperti “Si Entong” dimana jalan ceritanya memberi pembelajaran kepada anak bahwa menjadi anak yang baik akan membuat hidup kita akan baik dan disukai banyak orang. Global TV yang menyiarkan “Dora” dan “BluesClues” sebagai acara pendidikan yang interaktif dan menyenangkan dengan metode penyampaian yang berulang - ulang.
Melalui program Edutainment tersebut, setiap stasiun televivi dapat menyesuaikan metode penyampaian sesuai dengan target pasar yang dibidik, misalnya untuk anak usia dini 1- 5 tahun pembelajaran dapat disampaikan dengan metode habituation dimana belajar dilakukan melalui stimulus yang diulang atau dilatih. Atau untuk usia anak – anak Sekolah Dasar dapat menggunakan metode Observation Learning dimana proses pembelajaran dilakuakan dengan meningkatkan pengetahuan melalui proses pengamatan pada objek. Ketika stasiun pertelevisian menerapkan metode yang tepat sasaran, maka dapat dipastikan bahwa acara tersebut dapat disampaikan dengan efektif, dan dengan konten yang menarik maka hal tersebut dapat mendorong minat pemirsa untuk menonton dan secara otomatis dapat menyebabakan tingginya rating acara tersebut. Disamping itu ada pula hal – hal yang penting dalam pendidikan, salah satunya adalah dimana dibutuhkan adanya kesinambungan. Maka sangat disayangkan apabila sebuah acara yang berkonten Edutainment kemudian putus ditengah jalan tanpa adanya kejelasan. Hal ini tidak memberikan kesinambungan pada proses belajar yang sedang dijalankan anak – anak atau pemirsa sebagai target acara tersebut. Ketika orang sedang belajar dan tertarik untuk memperdalam ilmu yang sedang dipelajarinya, maka orang akan merasa penasaran dan ingin tahu bagaimana pelajaran tersebut di pertemuan selanjutnya, dan ketika keingintahuan tersebut tidak terjawab maka pemirsa akan merasa kecewa dan dapat menyebabkan turunnya motivasi untuk terus mencari tahu dan akhirnya pembelajaran tersebut putus ditengah jalan, belum sempurna dan mudah dilupakan bahkan hilang dalam benak pemirsa. Hal inilah yang patut dihindari oleh stasiun televisi manapun dalam menayangkan program edutainmentnya
Ketika pertelevisian Indonesia mampu menerapkan konsep Edutainment yaitu memasukkan pembelajaran dalam acara – acara yang disajikan, dengan didukung metode penyampaian yang tepat (disesuaikan dengan umur dan selera target pasar) serta penyajiannya yang berkesinambungan dimana tidak putus di tengah jalan sampai menemukan saat yang tepat untuk tidak ditayangkan lagi atau diganti dengan acara lain. Saya yakin ditengah peluang yang masih terbuka lebar saat ini, yaitu dimana masih sangat sedikit stasiun televisi yang fokus atau sekedar menyajikan konten edukasi dalam industri televisinya, acara edutainment tersebut dapat tumbuh, berkembang bahkan menjadi maju sebagai acara yang menyumbangkan rating tertinggi bagi pertelevisian Indonesia.
Jaya terus pendididkan Indonesia
Jaya terus Industri pertelevisian Indonesia.
Elissa Kurnia Dini
Mahasiswi IM Telkom
16 Maret 2010
Melalui program Edutainment tersebut, setiap stasiun televivi dapat menyesuaikan metode penyampaian sesuai dengan target pasar yang dibidik, misalnya untuk anak usia dini 1- 5 tahun pembelajaran dapat disampaikan dengan metode habituation dimana belajar dilakukan melalui stimulus yang diulang atau dilatih. Atau untuk usia anak – anak Sekolah Dasar dapat menggunakan metode Observation Learning dimana proses pembelajaran dilakuakan dengan meningkatkan pengetahuan melalui proses pengamatan pada objek. Ketika stasiun pertelevisian menerapkan metode yang tepat sasaran, maka dapat dipastikan bahwa acara tersebut dapat disampaikan dengan efektif, dan dengan konten yang menarik maka hal tersebut dapat mendorong minat pemirsa untuk menonton dan secara otomatis dapat menyebabakan tingginya rating acara tersebut. Disamping itu ada pula hal – hal yang penting dalam pendidikan, salah satunya adalah dimana dibutuhkan adanya kesinambungan. Maka sangat disayangkan apabila sebuah acara yang berkonten Edutainment kemudian putus ditengah jalan tanpa adanya kejelasan. Hal ini tidak memberikan kesinambungan pada proses belajar yang sedang dijalankan anak – anak atau pemirsa sebagai target acara tersebut. Ketika orang sedang belajar dan tertarik untuk memperdalam ilmu yang sedang dipelajarinya, maka orang akan merasa penasaran dan ingin tahu bagaimana pelajaran tersebut di pertemuan selanjutnya, dan ketika keingintahuan tersebut tidak terjawab maka pemirsa akan merasa kecewa dan dapat menyebabkan turunnya motivasi untuk terus mencari tahu dan akhirnya pembelajaran tersebut putus ditengah jalan, belum sempurna dan mudah dilupakan bahkan hilang dalam benak pemirsa. Hal inilah yang patut dihindari oleh stasiun televisi manapun dalam menayangkan program edutainmentnya
Ketika pertelevisian Indonesia mampu menerapkan konsep Edutainment yaitu memasukkan pembelajaran dalam acara – acara yang disajikan, dengan didukung metode penyampaian yang tepat (disesuaikan dengan umur dan selera target pasar) serta penyajiannya yang berkesinambungan dimana tidak putus di tengah jalan sampai menemukan saat yang tepat untuk tidak ditayangkan lagi atau diganti dengan acara lain. Saya yakin ditengah peluang yang masih terbuka lebar saat ini, yaitu dimana masih sangat sedikit stasiun televisi yang fokus atau sekedar menyajikan konten edukasi dalam industri televisinya, acara edutainment tersebut dapat tumbuh, berkembang bahkan menjadi maju sebagai acara yang menyumbangkan rating tertinggi bagi pertelevisian Indonesia.
Jaya terus pendididkan Indonesia
Jaya terus Industri pertelevisian Indonesia.
Elissa Kurnia Dini
Mahasiswi IM Telkom
16 Maret 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar